Kamis, 17 November 2011

STRATEGI PEMBELAJARAN IKUIRI BERMUATAN KARAKTER


STRATEGI PEMBELAJARAN IKUIRI BERMUATAN KARAKTER

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dilihat dari kemampuan dan potensi berfikir manusia yang memang sudah dimiliki sejak manusia lahir ke dunia, seperti halnya sejak kecil manusia sudah memiliki keingintahuan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan indera-indera yang lain, hingga keingintahuannya terus-menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya.
Seperti halnya manusia mampu menebak atau mengira-ira dari suatu permasalahan kemudian manusia tersebut dapat membuktikan tebakkannya, maka dia akan didorong untuk lebih mengembangkan potensi berfikirnya.  Karena melihat potensi yang memang sudah ada pada diri manusia itulah kenapa strategi pembelajaran inkuiri dikembangkan.
Setrategi pembelajaran inkuiri lebih menekankan pada proses berfikir. Peserta didik tidak hanya sekedar melakukan proses menghafal tetapi peserta didik dituntut mampu menemukan jawaban sendiri atas sesuatu hal yang dipertanyakan serta dapat memecahkan suatu masalah. Oleh karena itu diperlukannya kemampuan mengembangkan pola fikir secara optimal dengan cara berfikir yang logis dan analitis.
Dari pemaparan di atas, makalah ini selanjutnya membahas lebih lanjut mengenai bagaimana konsep dasar pembelajaran inkuiri, prinsip-prinsip pembejajaran inkuiri, bagaimana implementasi pembelajaran inkuiri beserta kesulitan-kesulitan yang ada, kemudian bagaimana keunggulan dan kelemahan dari setrategi pembelajaran inkuiri, beserta akan disinggung mengenai nilai-nilai karakter dalam setrategi pembelajaran inkuiri dan  bagaimana peran setrategi inkuiri dalam membangun karakter peserta didik.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Inkuiri
Istilah inkuiri berasal dari bahasa Inggris, yaitu inquiry yang berarti
pertanyaan atau penyelidikan. Pembelajaran inkuiri adalah suatu rangkaian
kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Model pembelajaran inkuiri yang dikembangkan oleh Suchman menyatakan bahwa anak-anak merupakan individu yang penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Adapun teori yang mendasari model pembelajaran ini adalah sebagai berikut:[1]
1.     Secara alami manusia mempunyai kecenderungan untuk selalu mencari tahu akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya.
2.     Mereka akan menyadari keingitahuan akan segala sesuatu tersebut dan akan belajar untuk dapat menganalisis setrategi berfikirnya tersebut.
3.     Setrategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan atau digabungakan dengan setrategi lama yang telah dimiliki siswa.
4.     Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat memperkaya kemampuan berfikir.
Jelas bahwa strategi inkuiri adalah rangkaian kegiatan yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berfikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa yunani, yaitu heuriskein yang berarti menemukan.
Manurut Sanjaya, pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan  menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Pembelajaran inkuiri dibangun dengan asumsi bahwa sejak lahir manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam sekelilingnya tersebut merupakan kodrat sejak ia lahir ke dunia, melalui indera-inderanya. Keingintahuan  manusia tersebut terus-menerus berkembang hingga dewasa dengan menggunakan otak dan pikirannya. Tujuan utama pembelajaran inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berfikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka. Selain itu inkuiri dapat mengembangkan nilai dan sikap yang sangat dibutuhkan agar siswa mampu berfikir ilmiah, seperti :
1.     Ketrampilan melakukan pengamatan, pengumpulan dan pengorganisasian data termasuk merumuskan hipotesis serta menjelaskan fenomena,
2.     Kemandirian belajar,
3.     Kemampuan mengekspresikan secara verbal,
4.     Kemampuan berfikir logis,
5.     Kesadaran bahwa ilmu bersifat dinamis dan tentatif.
Menurut Trianto, strategi pembelajaran inkuiri dapat diimplementasikan secara maksimal dengan memperhatikan beberapa hal: Pertama, aspek sosial di dalam kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi. Hal ini menuntut adanya suasana bebas (permisif) di kelas, siswa tidak merasakan adanya tekanan/ hambatan untuk mengemukakan pendapatnya. Kedua, inkuiri berfokus hipotesis. Siswa perlu menyadari bahwa pada dasarnya semua pengetahuan yang hanya menekankan dari segi menghafal mempunyai sifat yang sementara (tentative). Tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak, kebenaran selalu bersifat sementara. Apabila pengetahuan dipandang sebagai hipotesis, maka kegiatan belajar berkisar sekitar pengujian hipotesis dengan pengajuan berbagai informasi yang relevan. Inkuiri bersifat open ended jika ada berbagai kesimpulan yang berbeda dari siswa masing-masing dengan argumen yang benar. Ketiga, penggunaan fakta sebagai evidensi. Di dalam kelas dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta sebagaimana dituntut dalam pengujian hipotesis pada umumnya[2].
Sebagaimana dikemukakan di depan, pembelajaran inkuiri mempunyai beberapa hal yang menjadi konsep dasar (ciri utama) dalam strategi pembelajaran inkuiri, yaitu:
1.     Setrategi inkuiri menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya setrategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subyek belajar.
2.     Seluruh aktifitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan demukian strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, melainkan sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
3.     Tujuan dari penggunaan setrategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana meraka dapat menggunakan potensi yang di milikinya secara optimal.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, karena dalam setrategi ini siswa memang memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran. Setrategi pembelajaran inkuiri akan efektif manakala:
1.     Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri lebih menekankan kepada pentingnya proses pembelajaran.
2.     Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3.     Jika proses pembelajaan berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4.     Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berfikir, strategi inkuiri akan kurang berhasil apabila diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampan berfikir.
5.     Jika jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6.     Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
B.    Nilai-Nilai Karakter Dalam Strategi Pembelajaran Inkuiri
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu.
Maka berdasarkan paparan diatas berikut ini adalah nilai-nilai karakter yang terkandung dalam strategi pembelajaran inkuiri, sebagai berikut:
1.     Rasa ingin tahu, hal ini dikarenakan manusia secara alami mempunyai kecenderungan mencari sesuatu hal yang baru yang menurutnya itu menarik untuk dicari tahu.
2.     Kemandirian, karena dalam pembelajaran inkuiri peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik.
3.     Percaya diri, sesuai dengan konsep dasar dari pembelajaran inkuiri yang mengharapkan siswa mampu untuk bisa mandiri maka itu akan menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).
4.     Kritis, yakni sikap dan prilaku yang berusaha untuk menemukan kesalahan atau kelemahan maupun kelebihan dari suatu perbuatan.
5.     Kreatif  dan  inovatif,  yakni  berpikir  dan  melakukan  sesuatu  untuk  menghasilkan  cara  atau  hasil  baru  dan  termutakhir  dari   apa  yang telah dimiliki.
6.     Kepedulian sosial, dengan pembelajaran inkuiri secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap alam sekelilingnya yang akan membawa kepekaan terhadap permasalahan-permasalahan di alam sekitarnya sehingga kemudian akan berfikir bagaimana caranya menyelesaikan masalah-masalah dengan memberikan solusi-solusi yang dapat memecahkan permasalahan dengan baik.
C.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri ini menekankan kepada pengembangan mental (intelektual) siswa. Perkembangan mental (intelektual) itu menurut Piaget dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu: maturation, physical experience, sosial experience, dan equilibration.
1.     Maturation atau kematangan adalah proses perubahan fisiologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem saraf. Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berfikir (intelektual) anak. Otak merupakan pusat atau sentral perkembangan pada diri manusia. Menurut Sigelman dan Shaffer (1995), otak terdiri dari 100 miliar sel saraf (newron) dan setiap saraf itu rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel-sel saraf lainnya. Neuron terdiri dari inti sel (neucleus) dan sel bodi yang berfungsi sebagai penyalur aktifitas dari sel saraf satu ke sel saraf lainya.
2.     Physical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya. Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan bisa ditransfer menjadi gagasan-gagasan atau ide-ide. Oleh karena itu, proses belajar yang murni tidak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman. Bagi Piaget, aksi atau tindakan adalah komponen dasar pengalaman.
3.     Sosial experience adalah aktifitas dalam berhubungan dengan orang lain. Melalui pengalaman sosial, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan atau mendegarkan pandangan orang lain, tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturan lain disamping aturanya sendiri. Ada dua aspek pengalaman sosial yang dapat membantu perkembangan intelektual yaitu: Pertama, pengalaman sosial akan dapat meningkatkan kemampuan bahasa. Kedua, melalui pengalaman sosial anak akan mengurangi egocentricnya. Pengalaman semacam itu bermanfaat untuk mengambangkan konsep mental seperti misalnya kerendahan hati, toleransi, kejujuran, etika, dan lain sebagainya.
4.     Equilibration adalah proses penyesuain antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya. Ada halnya anak dituntut untuk memperbaharui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi baru yang tidak sesuai.
Atas dasar penjelasan di atas, maka dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya;
a.      Berorientasi pada pengalaman intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berfikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Oleh karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa mampu menguasai materi palajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktifitas mencari dan menemukan suatu gagasan yang pasti dan dapat dipertanggungjawankan.
b.     Prinsip interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berfikirnya melalui interaksi mereka. Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya, interaksi hanya terjadi pada siswa yang memiliki kemampuan bicara saja walaupun pada kenyataannya pemahaman siswa tentang subtansi permasalahan yang dibicarakan kurang atau guru justru meninggalkan peran sebagai pengatur interaksi itu sendiri.
c.      Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagaian dari proses berfikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan tehnik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.
d.     Prinsip belajar untuk berfikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan, baik otak reptile, otak limbic, mupun otak neokorteks. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk untuk berfikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar brfikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan mamasukan unsur-unsur estetika dalam proses pembelajaran yang menyenangkan dan menggairahkan.
e.      Prinsip Keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenaranya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.
D.    Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
Secara umum proses pembelajaran inkuiri adalah mengikuti langkah-langkah sebagai berikut : orientasi, merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan merumuskan kesimpulan. Penjelasan setiap langkah dalam proses pembelajaran inkuiri diatas, adalah sebagai berikut :
1.     Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengondisikan siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi adalah :
a.      Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
b.     Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
c.      Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.

2.     Merumuskan masalah.
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada satu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menentang siswa untuk berfikir memecahkan teka-teki itu. Beberapa hal yang diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya ;
a.      Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa.
b.     Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
c.      Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.

3.     Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Dalam konteks ini hipotesis yang dimaksud adalah ketika guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang mendorong siwa untuk merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu masalah yang sedang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tatapi harus memiliki landasan berfikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan bersifat rasional dan logis.
4.     Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual.
5.     Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Adapun yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan.
6.     Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendiskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupkan langkah penting dalam proses pembelajaran. Seting terjadi, banyaknya data yang diperoleh menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukan pada siswa data mana yang relevan.
E.    Model-model strategi pembelajaran inkuiri
1.     Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)
Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar yang memerlukan guru yang berperan aktif. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri. Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding yang diperlukan oleh siswa.
2.     Modified inquiry
Model ini memiliki ciri bahwa guru hanya memberikan permasalahan melalui pengamatan, percobaan atau prosedur penelitian untuk memperoleh jawaban. Disamping itu guru merupakan nara sumber yang tugasnya hanya memberikan bantuan yang diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam memecahkan masalah.
3.     Free inquiry
Pada model ini siswa harus mengidentifikasikan dan merumuskan macam problema yang dipelajari dan dipecahkan. Jenis model inkuiri ini lebih bebas dari pada kedua jenis inkuiri sebelumnya.
4.     Inquiry role Approach
Model pembelajaran inkuiri pendekatan peranan ini melibatkan siswa dala tim-tim yang masing-masing terdiri atas empat orang untuk memecahkan masalah yang diberikan. Masing-masing anggota memegang peranan yang berbeda, yaitu sebagai koordinator tim, penasihat teknis, pencatat data, dan evaluator proses.
5.     Invitation Into Inquiry
Model inkuiri jenis ini siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dengan cara-cara yang lain ditempuh para ilmuwan. Suatu undangan (invitation) memberikan suatu problema kepada para siswa dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan atau kalau mungkin semua kegiatan berikut:a) Merancang eksperimen, b) Merumuskan hipotesis, c) Menentukan sebab akibat, d) menginterpretasikan data, e) Membuat grafik, f) Menentukan peranan diskusi dan kesimpulan dalam merencanakan peneitian ,g) mengenal bagaimana kesalahan eksperimental mungkin dapat dikurangi atau diperkecil.
6.     Pictorial Riddle
Pada model ini merupakan metode mengajar yang dapat mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil atau besar , gambar peragaan, atau situasi sesungguhnya dapat digunakan untuk mningkatkan cara berfikir kritis dan kreatif para siswa. Biasanya, suatu riddle berupa gambar di papan tulis, poster, atau diproyeksikan dari suatu transparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan riddle itu.
7.     Synectics Lesson
Pada jenis ini memusatkan keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena kiasan dapat membantu siswa dalam berfikir untuk memandang suatu problema sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif.
8.     Value Clarification
Pada model pembelajaran inkuiri jenis ini siswa lebih difokuskan pada pemberian kejelasan tentang suatu tata aturan atau nilai-nilai pada suatu proses pembelajaran.
F.     Variasi Pengembengan Strategi Pembelajaran Inkuiri
1.     Pengembangan strategi pembelajaran inkuiri dalam pelajaran IPS
Pembelajaran melalui inkuiri, dalam hal ini adalah salah satu model yang cukup membantu dalam mengembangkan bakat siswa. Sesuai situasi dan kondisi perkembangan emosi, moral dan intelektual anak, inkuiri dapat didesain menjadi sebuah strategi pembelajaran yang menyenangkan. Untuk tingkat dasar, model inkuiri ringan dapat dijadikan salah satu strategi pengayaan dalam pembelajaran IPS agar menjadi sebuah mata pelajaran yang menarik dan menantang. Sejalan dengan Clark dan Asmaul Khair[3], model inkuri yang berkesesuaian dengan siswa tingkat dasar adalah  the control and guided discussion. Model ini  menggunakan dialog atau diskusi dengan mengajukan serangkaian pertanyaan yang harus dijawab siswa. Model ini dapat mengunakan media dengan upaya guru menyajikan sejumlah informasi tertentu melalui bahan bacaan, film,  gambar atau yang lainnya. Kemudian guru mendorong siswa untuk menggambarkan atau memahami prinsip-prinsip yang terkandung dalam topik/bahan yang disajikan melalui pertanyaan-pertanyaan. Demikian pula dengan bentuk inkuiri deduktif yang dikemukakan Schuman bahwa inkuiri dapat dimulai dengan cara yang sangat sederhana dalam membantu mengembangkan kreatifitas berpikir siswa.
G.   Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Ikuiri
1.     Keunggulan
a.      Menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik secara seimbang.
b.     Siswa menjadi aktif dalam mencari dan mengolah sendiri informasi.
c.      Siswa mengerti konsep-konsep dasar dan ide-ide secara lebih baik.
d.     Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
e.      Siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
f.      Membantu siswa dalam menggunakan ingatan dalam transfer konsep yang dimilikinya kepada situasi-situasi proses belajar yang baru.
2.     Kelemahan
a.      Jika guru tidak dapat merumuskan teka-teki atau pertanyaan kapada siswa dengan baik, untuk memecahkan permasalah secara sistematis, maka akan membuat murid lebih bingung dan tidak terarah.
b.     Kadang kala guru mengalami kesulitan dalam merencanakan
pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.      Dalam implementasinya memerlukan waktu panjang sehingga guru sering sulit menyesuaikannya dengan waktu yang ditentukan.
d.     Pada sistem klasikal dengan jumlah siswa yang relatif banyak;
penggunaan pendekatan ini sukar untuk dikembangkan dengan baik.
e.      Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi, maka pembelajaran ini sulit diimplementasikan oleh guru.
H.    Peran Strategi Pembelajaran Inkuiri Dalam Membangun Karakter Peserta didik
Tujuan dari pembelajaran setidak-tidaknya seorang guru menanamkan tiga domain, yakni, kognitif, afektif dan psikomotor dan ketiga domian itu secara langsung akan tertanam pada setiap siswa yang mengikuti suatu proses pembelajaran. Oleh karena itu, yang paling mendasar dipafami oleh guru adalah melatih siswa untuk berpikir, memecahkan masalah dan menemukan sesuatu bukan merupakan tujuan pendidikan inkuiri. Di samping itu juga strategi pembelajaran inkuiri diharapkan mampu membangun karakter peserta didik. Darmiyati Zuchdi, dkk[4] Berdasarkan  Seminar  dan  Lokakarya  Restrukturisasi  Pendidikan Karakter  (2008)  di  UNY,  telah  dihasilkan  sejumlah  nilai-nilai  target  yang dipilih  oleh  setiap  kelompok  peserta,  yakni  kelompok  pimpinan,  dosen S1, dosen S2 dan S3, mahasiswa, dan  tenaga administrasi. Kemudian dilakukan  analisis  terhadap  frekuensi  kemunculan  pilihan  nilai  dari setiap  kelompok,  sebagai  dasar  untuk  menentukan  nilai-nilai  target  yang dikembangkan di Universitas Negeri Yogyakarta. Dari sekian banyak nilai-nilai yang dimunculkan, akhirnya  terpilih 16 nilai target, yaitu:
1.     Ketaatan  beribadah
2.     Kejujuran
3.     Tanggung  jawab
4.     Kedisiplinan
5.     Etos kerja
6.     Kemandirian
7.     Sinergi
8.     Kritis
9.     Kreatif  dan  inovatif
10.  Visioner
11.  Kasih sayang dan kepedulian
12.  Keikhlasan
13.  Keadilan
14.  Kesederhanaan
15.  Nasionalisme
16.  Internasionalisme
Berdasarkan paparan di atas maka pemakalah menganalisis bagaimana peran strategi pembelajaran inkuiri dalam membentuk karakter peserta didik dengang melihati dari konsep dasar pembelajaran inkuiri. Maka dapat disebutkan sebagai berikut :
a.      Mengarahkan siswa untuk mandiri, karena dalam pembelajaran inkuiri peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik.
b.     Menanamkan rasa percaya diri, sesuai dengan konsep dasar dari pembelajaran inkuiri yang menyatakan seorang siswa harus mampu mandiri dalam menyelesaikan masalah sehingga akan mampu menumbuhkan rasa percaya diri (self belief).
c.      Menumbuhkan sikap kritis, yakni sikap dan prilaku yang berusaha untuk menemukan kesalahan atau kelemahan maupun kelebihan dari suatu perbuatan.
d.     Membentuk siswa yang kreatif  dan  inovatif,  yakni  berpikir  dan  melakukan  sesuatu  untuk  menghasilkan  cara  atau  hasil  baru  dan  termutakhir  dari   apa  yang telah dimiliki.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Proses belajar inkuiri tidak dapat dipisahkan dari aktifitas dan interaksi, karena persepsi dan aktifitas berjalan seiring secara dialogis. Pengetahuan tidak dipisahkan dari aktifitas di mana pengetahuan itu dikonstruksikan, dan di mana makna diciptakan, serta dari komunitas budaya di mana pengetahuan  didesiminasikan dan diterapkan. Dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri ini siswa akan dihadapkan pada suatu permasalahan yang harus diamati, dipelajari, dan dicermati, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman konsep mata kuliah dalam kegiatan pembelajaran. Secara logika apabila siswa meningkat partisipasinya dalam kegiatan pembelajaran, maka secara otomatis akan meningkatkan pemahaman konsep materi pembelajaran, dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan prestasi belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan inkuiri dalam proses pembelajaran di kelas dapat meningkatkan penguasaan konsep materi kuliah sekaligus dapat meningkatkan prestasi belajar.
DAFTAR PUSTAKA

Asmaul Khair, Peningkatan kinerja Guru  dalam Pengembangan Bahan Ajar Melalui Model inkuiri pada Proses Belajar Mengajar IPS SD (Penellitian Tindakan Kelas pada kelas V SDN 02 (Banjarsari Kodya Metro lampung), Tesis, Bandung: PPS UPI Bandung, 2000.
Darmiyati Zuchdi, dkk. Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Komprehensif Terintegrasi dalam Perkuliahan dan Pengembangan Kultur Universitas, Yogyakarta: UNY Press, 2010.
Hamruni, Setrategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif Menyenangkan, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009.
Sukma Erni, Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri Dalam Mata Pelajaran IPS SD Kurikulum KTSP, Riau: Fakultas Tarbiyah UIN Suska (Sunan Kalijaga ya????) Riau,…….. Tahunnya mana?????


[3] Asmaul Khair, Peningkatan kinerja Guru  dalam Pengembangan Bahan Ajar Melalui Model inkuiri pada Proses Belajar Mengajar IPS SD (Penellitian Tindakan Kelas pada kelas V SDN 02 (Banjarsari Kodya Metro lampung ), tesis, PPS UPI Bandung, 2000, tidak diterbitkan.
[4] Darmiyati Zuchdi, dkk.210. Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Komprehensif Terintegrasi dalam Perkuliahan dan Pengembangan Kultur Universitas. UNY Press. Hal : 14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar