Kamis, 17 November 2011

TAFSIR AYAT TARBAWY SURAT LUQMAN AYAT 12-14


TAFSIR AYAT TARBAWY SURAT LUQMAN AYAT 12-14
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Ayat Tarbawy
Dosen Pengampu:
Drs. H. Muhammad Annis, M.A



Disusun oleh kelompok 4:
                                
Abdul Latif                             09470101
Fitri Nur Farida                      09470098
Siti Faizatuzzuhriyah            09470100
Ahmad Ridwan                       09470104




JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN

Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan orang tua kepada Allah SWT. Anak adalah tempat orang tua mencurahkan kasih sayangnya. Dan anak juga investasi masa depan untuk kepentingan oaring tua di akhirat kelak. Oleh sebab itu, orang tua harus memelihara, membesarkan, merawat, menyantuni dan mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Rosulullah SAW mengajarkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu, bapanyalah yang berperan merubah fitrah itu menjadi-dalam bahasa Rosul-Yahudi, Nashrani atau Majusi.[1] Hal ini telah dijelaskan dalam sebuah hadist yang berbunyi sebagai berikut :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaaan fitrah, maka ibu bapaknyalah (yang akan berperan) “mengubah” anak itu menjadi seorang Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi.” (HR. Bukhori).
Oleh sebab itu setiap orang tua mempunyai kewajiban memelihara dan mengembangkan fitrahnya atau potensi dasar keislaman anak tersebut sehingga tumbuh kembang menjadi muslim yang benar-benar menyerahkan diri secara total kepada Allah SWT.
Setiap manusia juga mempunyai kewajiban, begitu juga seorang anak wajib mematuhi dan menghormati kedua orang tuanya yang telah besusah payah dalam membesarkan dan mendidik seorang anak.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Surat Luqman 12-14
1.     Nasihat Luqman Kepada Anaknya
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
2.     Terjemahan
12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [1180][2]. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

3.     Mufrodat
لقمان                       : (Luqman) dia adalah seorang tukang kayu
الحكمة                      : kebijaksanaan dan kecerdikan
الشكر                       : memuji kepada Allah
يعظه                        : memberi
تشرك                       : mempersekutukan
لظلم                         : besar
ووصينا                    : dan kami perintahkan
الانسن                      : manusia
حملته بولديه امه         : (berbuat baik) kepada ibu bapaknya
وهنا                        : lemah
فصله                       : menyapih
المصيرالى                 : hanya kepad-Kulah kamu kembali
جهداك                      : keduanya menginginkan
اناب                         : Kembali (bertaubat)

B.    Tafsir
Sesudah Allah menjelaskan kerusakan aqidah orang-orang musyrik karena mereka telah mempersekutukan hal-hal yang tidak dapat menciptakan sesuatu dengan Tuhan yang menciptakan sesuatu, dan setelah Dia menjelaskan bahwa orang musyrik itu adalah zalim lagi tersesat. Lalu Dia mengiri hal tersebut dengan menjelaskan, bahwa semua nikmat-nikmat-Nya yang tampak jelas di langit dan bumi dan semua nikmat-Nya yang tidak tampak seperti ilmu dan hikmah, semua menunjukkan kepada keesaan-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah memberikan hal tersebut kepada sebagian hamba-hamba-Nya seperti Luqman, yang mana hal-hal itu telah tertanam secara fitrah didalam dirinya, tanpa ada seorang nabi pun yang membimbingnya, dan pula tanpa ada seorang rasul pun yang diutus kepadanya.

1.     Surat Luqman ayat 12
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ
Dan sesungguhnya Allah telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu ia selalu bersyukur dan memuji kepada-Nya atas apa yang telah diberikan kepadanyadari karunia-Nya, karena sesungguhnya hanya Dia-lah yang patut untuk mendapat puji dan syukur itu. Disamping itu Luqman selalu mencintai kebaikan untuk manusia serta mengarahkan semua anggota tubuhnya sesuai dengan bakat yang diciptakan untuknya.
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
            Dan barang siapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya manfaat dari syukurnya itu kembali kepada dirinya. Karena sesungguhnya Allah akan melimpahkan kepadanya pahala yang berlimpah sebagai balasan dari-Nya, atas rasa syukurnya dan dia kelak akan menyelamatkannya dari azab, sebagaimana telah diungkapkan di dalam ayat lain :
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلأنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ
“ Dan barang siapa yang beramal saleh, maka untuk mereka sendirilah, mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (Ar-Rum, 30 : 44).
وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan barang siapa yang kafir kepada nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, maka dia sendirilah yang menanggung akibat buruk kekafirannya itu, karena sesungguhnya Allah akan menyiksa dia karena kekafirannya terhadap nikmat-nikmat-Nya itu. Dan Allah Maha kaya dari rasa syukurnya, karena kesyukurannya itu tidak akan menambahkan apa-apa bagi kekuasaan-Nya, sebagaimana kekafirannya pun tidak akan mengurangi apa-apa bagi kerajaan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Terpuji dalam segala suasana, apakah hamba kafir atau bersyukur.
2.     Surat Luqman ayat 13
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Ayat 13 ini berbicara tentang nasihat Luqman kepada putranya yang dimulai dari peringatan terhadap perbuatan syirik. Luqman menjelaskan kepada anaknya, bahwa perbuatan syirik itu merupakan kezaliman yang besar.[3] Syirik dinamakan perbuatan yang zalim, karena meletakan sesuatu bukan pada tempatnya.
Imam ash Shobuni menafsirkan لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ dengan menyatakan, “jadilah orang yang berakal; jangan mempersekutukan Allah dengan apapun, apakah itu manusia, patung, atau anak.” Beliau menafsirkan إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ dengan menyatakan, “Perbuatan syirik merupakan sesuatu yang buruk dan tindak kezaliman yang nyata. Karena itu, siapa saja yang menyerupakan antara Khalik dengan makhluk, tanpa ragu-ragu, orang tersebut bisa dipastikan masuk ke dalam golongan manusia yang paling bodoh. Sebab, perbuatan syirik menjauhkan seseorang dari akal sehat dari hikmah sehingga pantas digolongkan ke dalam sifat zalim, bahkan pantas disertakan dengan binatang.
Kata يَعِظُهُ terambil dari kata عظو yaitu nasihat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang mengartikan sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman. Penyebutan kata ini yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang sebagaimana dipahami dari panggilan mesra kepada anak.
Sedangkan ulama memahami kata عظو dalam arti ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman, berpendapat bahwa kata tersebut mengisyaratkan bahwa anak Luqman itu adalah seorang musyrik, sehingga sang ayah menyandang hikmah it uterus menerus menasihatinya sampai akhirnya sang anak mengakui Tauhid.[4]
Kata بُنَيَّ adalah patron yang menggambarkan kemungilan. Asalnya dalah ابني ibny, dari kata بنا ibn yakni anak lelaki. Pemungilan tersebut mengisyaratkan kasih sayang. Dari sini kita dapat berkata bahwa ayat diatas sumber isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih sayang terhadap peserta didik.
Pada ayat 13 diperintahkan untuk merenungkan anugrah Allah kepada Luqman itu dan serta mengingatkan kepada orang lain. Ayat ini berbunyi : Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam keadaan pada saat ke saat menasihatinya bahwa wahai anakku sayang! Janganlah engkau mempersekutukan Allah dengan apapun, dan jangan juga mempersekutukan-Nya sedikit persekutuan pun, lahir maupun batin. Persekutuan yang jelas maupun tersembunyi adalah syirik yakni mempersekutukan Allah.[5]
Luqman menekankan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik. Memang “ At-takhiyah muqaddamun ‘ala at-tabliyah” (menyingkirkan keburukan lebih utama dari pada menyandang perhiasan).[6] Dari ayat ini pula dapat dipahami bahwa antara kewajiban orang tua kepada anak-anaknya adalah member nasihat dan didikan. Orang tua harus memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya. Orang tua tidak boleh menganggap cukup apabila telah menyediakan segala kebutuhan fisik seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan kesenangan lahiriyah lainnya. Justru yang lebih penting adalah memperhatikan kebutuhan rohani berupa pendidikan agama maupun pendidikan keilmuan lainya dan keterampilan.
3.     Surat Luqman ayat 14
وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tua ibu bapakmu, hanya kapada-Kulah kembalimu.
Untuk itu Allah berfirman:
            وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
Dan kami perintahkan kepada manusia supaya berbakti dan taat kepada orang tuanya, memenuhi hak-hak keduanya.
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ
Ibu telah mengandungnya, sedang ia dalam keadaan lemah yang kian bertambah disebabkan semakin membesarnya kandungan sehingga ia melahirkan, kemudian sampai selesai dari masa nifasnya.
            Kata وَهْنًا berarti kelemahan atau kerapuhan. Yang dimaksud disni kurangnya kemampuan memikul beban kehamilan, penyusuan dan pemeliharaan anak. Kata yang digunakan ayat inilah mengisyaratkan betapa lemahnya sang ibu sampai-sampai ia dilukiskan bagaikan kelemahan itu sendiri, yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan telah menyatu pada dirinya dan dipikulnya. Firman-Nya وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ (dan penaypuhannya didalam dua tahun), mengisyaratkan betapa pentingnya penyusuan anak oleh seorang ibu kandung. Tujuan penyusuan ini bukan sekedar untuk memelihara kelangsungan hidup anak, melainkan juga lebih-lebih untuk menumbuh kembangkan anak dalam kondisi fisik dan psikis yang prima.
Selanjutnya Allah menjelaskan pesan-Nya melalui firman berikut:
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
            Dan Kami perintahkan kepadanya, bersyukurlah kamu kepada-Ku atas semua nikmat yang telah Ku limpahkan kepadamu, dan bersyukur pulalah kepada ibu bapakmu. Karena sesungguhnya kedua itu merupakan penyebab bagi keberadaanmu. Dan keduanya telah merawatmu dengan baik sehingga kamu menjadi tegak dan kuat.
إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Hanya kepada-kulah kembali kamu, bukan kepada selain-Ku. Maka Aku akan memberikan balasan terhadap apa yang telah kamu lakukan yang bertentangan dengan-Ku.
Ayat diatas menyatakan : dan kami wasiatkan yakni berpesan dengan amat kukuh kepada semua manusia menyangkut kepada orang ibu bapanya, pesan kami disebabkan karena ibunya telah mengandung dalam keadaan kelemahan diatas kelemahan, yakni kelemahan berganda-ganda dan dari saat ke saat bertambah-tambah. Lalu beliau melahirkan dengan susah payah, kemudian merawat dan menyusuinya setiap saat, bahkan ditengah malam ketika saat manusia lain tertidur nyenyak. Demikian hingga tiba masa menyapikannya. Dimasa kelahiran memang ibu lebih berpotensi atau lebih ekstra dibandingkan seorang bapak dan itu tidak cukup hanya dimasa kelahiran seorang anak, melainkan sampai anak tumbuh berkembang. Memang ayah pun bertanggung jawab menyiapkan dan membantu agar beban yang dipikulnya tidak terlalu berat. Namun, jasa ayah tidak bisa diabaikan begitu saja oleh karena itu anak juga berkewajiban berdoa untuk ayahnya.[7]
BAB III
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
·       Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, 1992, Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV. Toha Putra
·       Shihab, M. Quraish, 2002, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati
·       Tafsir Surat Luqman (31) ayat 13-19, Membangun Kebangkitan Pemikiran Umat. htm


[1] DR. H. Yunahar Ilyas, Lc, M.A, Kuliah Akhlak, hal. 172.
[2] [1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
[3] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi 21, hal. 153
[4] Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002
[5] Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002
[6] Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002
[7] Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar